01 December 2017

Jaman sekarang, dengan bantuan teknologi yang tersedia, memulai bisnis sendiri mudah sekali dilakukan - mulai dari meluncurkan startup yang cool hingga menjadi nomad digital yang bisa berkantor di mana saja, bahkan bekerja sambil berlibur dari cafe di Bali, misalnya.  Nah, meskipun begitu, perlu diingat, kebanyakan startup memiliki tingkat kegagalan yang tinggi. Bagaimana sih, caranya menghindari kegagalan yang biasa dialami bisnis pemula dan mengarahkan dirimu ke jalan menuju sukses? 

Passion, kunci pertama!

Kalau dilihat dari luarnya saja, kelihatannya app-app dan startup baru seperti contohnya Go-Jek langsung sukses dalam sekejap - tapi kalau kita tahu cerita sebenarnya, ada kerja keras selama bertahun-tahun yang telah diperjuangkan oleh para founder Go-Jek di balik kesuksesan mereka sekarang, termasuk usaha untuk tetap termotivasi untuk menjalankan perusahaan, meskipun banyak rintangan dan hambatan yang dialami. Tetap terus bersemangat seperti ketika kita baru memulai bisnis dan terus tanamkan keyakinan untuk bisa berhasil, dan pada saat yang sama belajar untuk move on dari kegagalan, sekaligus juga bersabar saat kesulitan datang, merupakan hal-hal yang luar biasa penting dalam menjalankan usaha. 

Sebelum Go-Jek meledak dan sukses sebagai appstartup ini sebenarnya sudah berdiri sejak 2010, tapi selama 5 tahun, Go-Jek stuck dan tidak berkembang pesat. Meskipun begitu, Nadiem Makarim, sang founder, tetap tidak putus asa, pantang menyerah dan terus berusaha memikirkan, inovasi apa yang bisa membuat Go-Jek maju? Passion Nadiem untuk membesarkan Go-Jek akhirnya menemui titik terang, saat Go-Jek meluncurkan app di smartphone yang memungkinkan semua servis Go-Jek untuk dapat diakses lewat ponsel. Setelah 5 tahun berstatus zombie startup yang hidup segan, mati tak mau, di tahun 2015 Go-Jek akhirnya berhasil sukses, dan dalam waktu kurang dari 2 tahun berselang, Go-Jek menjelma menjadi salah satu startup Indonesia yang paling besar.

Lakukan riset

Perusahaan yang sukses membutuhkan organisasi yang baik, jadi buatlah rencana yang matang sebelum me-launch bisnismu, perhatikan detil-detil seperti biaya operasional, calon pelanggan dan lokasi usaha. Kenali dulu bidang usaha dan pangsa pasar yang kamu tuju, dan jangan takut untuk mencari pengalaman dulu sebelum memulai usaha - riset membuktikan bahwa 75% dari pengusaha memiliki 6 tahun atau lebih pengalaman di bidang usaha yang relevan, dan meskipun banyak sekali kisah populer milyuner yang putus sekolah seperti Mark Zuckerberg dan Steve Jobs, riset juga menunjukkan bahwa sekitar 95% pengusaha sukses punya ijazah universitas.

Contohnya, sang "Mimin" alias "Admin" dan founder Kaskus, Andrew Darwis, yang memiliki gelar master dari universitas di Seattle, Amerika Serikat. Saat pertama mendirikan Kaskus, Andrew masih sekolah di Amerika. Sembari kuliah dan "mengasuh" Kaskus, ia sempat bekerja di berbagai perusahaan IT selama 7 tahun lebih guna mencari pengalaman dan mengasah keahliannya di bidang programming, sebelum ia memutuskan untuk fokus 100% pada startup-nya yang di tahun 2007 telah berkembang pesat.

Buat perencanaan keuangan yang matang 

Berpikirlah yang panjang dan pertimbangkan masak-masak dulu mengenai rencana keuangan sebelum berhenti kerja full-time untuk memulai bisnismu sendiri. Apakah kamu mampu untuk resign dari pekerjaanmu saat ini, atau apakah peluang bisnis ini sekarang masih lebih baik dijadikan proyek sampingan? Pelajari dulu tentang pilihan investasi untuk mengetahui bagaimana kamu dapat membiayai bisnismu, serta memperbaiki pengetahuanmu mengenai budget dan cashflow. Juga jangan lupakan soal pajak - mungkin ada baiknya kamu meminta saran ke konsultan pajak supaya kamu tetap aman dan tidak melanggar peraturan.

Salah satu trik untuk tetap mendapatkan penghasilan dan menjaga cashflow agar tetap lancar, adalah mencari pekerjaan sampingan sementara masih bekerja full-time.  Tapi, bila kamu memang punya cita-cita untuk menjadi entrepreneur, coba lirik pekerjaan tambahan yang punya prospek bagus untuk dijadikan penghasilan utama, contohnya bisnis sebagai agen asuransi yang bisa dijalankan di waktu luang atau weekend, di luar jam kantor.

Mengapa menjadi agen asuransi merupakan salah satu alternatif bagus? Sebab, para agen asuransi Generali merupakan contoh dari entrepreneur digital masa kini, yang terbagi ke dalam dua kategori.  Kategori yang pertama, mereka yang saat ini masih menjalankan bisnis asuransi sebagai pekerjaan sampingan, dengan tetap memiliki pekerjaan full-time, mereka bisa menikmati sumber penghasilan tambahan sambil mengumpulkan pengalaman hingga saatnya nanti mereka siap untuk terjun sepenuhnya menjadi agen Generali.  Sedangkan kategori kedua adalah para agen yang memang fokus full-time menjalankan bisnis asuransi, setelah beberapa lama mereka mencoba menjajaki bisnis bersama Generali dan setelah merasa cukup bekal pengalaman berusaha di bidang ini, mereka sudah siap untuk meraih kebebasan penuh sebagai entrepreneur  yang menjalankan bisnis mereka sendiri.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu bercita-cita ingin memiliki bisnismu sendiri kelak, suatu hari nanti?

 

Selalu update dengan jenis-jenis bisnis baru dan berita seputar teknologi lewat artikel-artikel dari expert kami

10 Sifat Pemimpin Bisnis yang Hebat

Trend perubahan cara belanja masyarakat ke arah online shopping

Komunikasi lewat jalur digital: Cara interaksi masa kini

Bisnis jaman now: era entrepreneur digital

 

Menabung dengan bijak dan merencanakan masa depan finansial dapat membawa perubahan besar pada kualitas hidupmu, sekarang dan kelak. Mulai rencanakan masa depan dari sekarang, lewat berbagai pilihan simpanan masa depan, investasi, dan dana pensiun yang kami tawarkan.